Ketika Jakarta menjadi Terlalu Keras bagi Pejalan Kaki dan Pengendara

Berkendara ke kantor, saya memperhatikan para pejalan kaki dan pengendara yang lalu lalang. Maklum saya berada diposisi sebagai penumpang Gojek, jadi sah-sah saja kan kalau mata saya memperhatikan, dengan pikiran melayang-layang 😀

Ketika macet terjadi dijalan Kemanggisan, ada dua orang laki-laki yang hendak menyebrang jalan. Jalanan saat itu sangat padat dan jarak antar kendaraan saling mepet. Ga ada jeda untuk pejalan kaki menyebrang. Tapi salah satu penyebrang jalan tersebut gak kehilangan akal, dengan matanya yang sayu seperti orang teler dan wajahnya yang agak memelas, ia mengucapkan, “Maaf Pak Bu, numpang nyebrang yaa, maaf..”

Begitu santun, hingga para pengendara motor dan mobil mempersilahkan dua orang laki-laki tersebut menyebrang dengan aman, tanpa klakson. Hmm.. boleh juga tuh idenya. Suatu hari saya mungkin bawa plang dengan tulisan “Permisi Pak, Bu, Kakak, saya nyebrang sebentar yaa…!”

Jalanan di Jakarta ternyata gak keras-keras amat kok.

Beberapa kilometer dari jalanan Kemanggisan, tiba-tiba motor dan mobil mengerem mendadak. Hampir saja terjadi tabrakan beruntun. Wadoww! Gak bagus deh pagi-pagi dapet petaka. Gak taunya ada seorang ibu yang berlari menyebrang jalan. Entah itu salah ibunya, atau pengendaranya yang tidak mau memberikan jalan, kemudian perempuan tersebut memaksa menyebrang.

Saya gak berani menyalahkan pihak mana pun, karena saya hanya tahu pas rem mendadak saja.

Jalanan di Jakarta ternyata masih keras.

Hampir sampai di kantor, tapi saya gak mau terlalu cepat sampai, karena masih ada waktu setengah jam lagi.

Sembari berolahraga, saya memutuskan untuk menaiki jembatan penyebrangan saja. Tangganya banyak juga, dada rasanya engap sekali ketika sampai diatas jembatan. Sepertinya saya sudah lama sekali tidak olahraga.

Diatas jembatan, saya memperhatikan pejalan kaki dibawah. WOW! Beberapa dari mereka lebih memilih langsung menyebrang jalan. Padahal saya tahu tuh, jarang sekali ada kendaraan yang mau memberikan jalan bagi pejalan kaki. Tapi penyebrang jalan tersebut berani juga menyebrang dengan cara yang menantang, menurut saya.

Mungkin mereka menghindari rasa engap seperti saya. Hehe. Biarlah itu urusan mereka, tapi siapa tahu suatu hari nanti pemerintah daerah mau membuatkan jembatan yang lebih ramah untuk dinaiki tangganya. Jadi orang yang menyebrang pun merasa lebih senang menyebrang dengan menggunakan jembatan penyebrangan, ketimbang adu nyawa dengan mobil.

Jakarta, sang kota metropolitan, masihlah keras buat pengendara dan pejalan kaki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s